Superqurban on Pikiran Rakyat

29 Nov

Superqurban 28/11. Setiap Idul Adha, Masjid Al-Ukhuwwah Kota Bandung selalu sibuk. Masjid ini menjadi sasaran sekitar tiga ribu orang untuk mendapatkan daging kurban. Sejak pagi, di sekitar Jln. Wastukancana sudah ramai. Orang-orang tidak hanya datang dari Bandung, tetapi juga dari berbagai kota. Padahal, jumlah hewan kurban yang disembelih tidak banyak. Tahun lalu saja hanya menyembelih lima sapi dan sebelas domba. Sebagian besar berasal dari lingkungan Pemkot Bandung.

Mereka rela antre panjang sekadar mendapatkan sekantong daging seperempat kilogram. Tidak ada yang memastikan apakah mereka betul-betul fakir. “Kami tidak tahu apakah mereka benar-benar miskin, atau ada yang mengkoordinir, setelah itu dijual lagi. Kami berprasangka baik saja. Kami dititipi hewan kurban untuk disembelih sesuai dengan syariat,” kata Sekretaris Umum Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) Al-Ukhuwwah, H.M. Sidiq Hasan.

Memastikan penerima daging kurban bukan hal mudah. Sering pula pembagian daging kurban justru jatuh ke tangan yang tidak semestinya. Iduladha seringkali dimaknai dengan membagi rata daging kurban. Semua orang mendapat bagian, tidak peduli miskin atau kaya. Padahal menurut syariat Islam, yang berhak menerima daging kurban adalah kaum fakir. Yang berkurban itu pun tidak lebih dari sepertiga bagian saja. Bahkan, panitia penyembelihan seharusnya tidak mendapat daging kurban jika mereka bukan termasuk dalam golongan fakir miskin.

“Hewan kurban seharusnya disembelih, diurus, dan dibagikan oleh yang berkurban. Bisa juga diuruskan orang lain dan wajib diberi upah. Upahnya tidak boleh daging yang disembelih itu,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa barat, Hafidz Usman.

Hal inilah yang kurang diperhatikan. Apalagi jumlah dan sebaran fakir miskin belum terdata baik. Jangankan pembagian daging kurban, Bantuan Langsung Tunai (BLT) saja masih acak-acakan hingga sering tidak tepat sasaran.

Sebenarnya, mekanisme sederhana pembagian hewan kurban bisa menjadi alat kontrol. Yaitu dengan membagi ke lingkungan terdekat dulu, misalnya di sekitar RT atau RW. Harapannya, petugas pembagi mengenal betul kondisi penerima. Apakah termasuk dalam golongan fakir miskin atau tidak. Sayangnya, seringkali justru ini yang luput dilakukan. Kebanyakan dibagi rata sehingga terkesan sebagai pesta tahunan makan daging bersama.

Dinas Peternakan Jawa Barat mencatat 348.448 KK yang berkurban pada Iduladha tahun lalu, di antaranya 196.776 kambing/domba dan 21.667 sapi/kerbau. Jika jumlah itu tersalur dengan benar, jumlah keluarga miskin yang menikmati daging kurban tentu berlipat dari jumlah keluarga yang berkurban.

**

Pembagian hewan kurban harus selesai saat itu juga. Jika tidak, panitia harus menyimpan daging dengan baik sehingga masih laik dibagikan pada keesokan harinya. Itupun harus segera dibagikan sebab daging segar mempunyai umur pendek. “Supaya tidak mubazir, dibagikan habis pada hari itu. Akhirnya jadi tidak tepat sasaran,” kata Program Development Division Head Rumah Zakat Indonesia (RZI), Taslinudin.

Untuk menyiasatinya, kini banyak orang mulai memilih membagi daging kurban dalam bentuk olahan. Salah satu program yang dikembangkan RZI, membagikan daging kurban berbentuk kornet.

Tak mudah memperkenalkan program ini, sebab banyak yang merasa kurang afdal jika berkurban tidak dengan membeli kambing dan membagikan daging segar.

“Sebenarnya bukan berkurban dengan kornet. Tetap berkurban kambing atau sapi, hanya dagingnya setelah disembelih tidak langsung dibagikan, tetapi diolah menjadi kornet. Harapannya bisa lebih panjang umurnya, bisa sampai tiga tahun,” katanya.

Ia meyakinkan bahwa hewan-hewan tersebut tetap disembelih sesuai dengan syariat Islam dan dilakukan tepat pada Iduladha atau hari tasyrik. Proses pengolahan makan waktu sekitar satu bulan sehingga pendistribusian bisa dilakukan setelah itu. “Kami bisa mendistribusikan sepanjang tahun,” katanya.

Umur daging yang bisa lebih panjang memungkinkan daging kurban menjangkau fakir miskin di tempat-tempat yang tidak terjangkau, tanpa harus khawatir daging membusuk.

Satu kambing bisa diolah menjadi 30-40 kaleng kornet seberat 200 gram. Satu sapi menjadi 300-400 kaleng kornet dengan berat sama. Tahun lalu, RZI menyembelih 6.400 sapi dan 350 kambing.

Cara ini bukan hal baru. Di Saudi Arabia, pembagian daging kurban juga berbentuk daging olahan yang bisa tahan lama. “Sebab, di sana banyak jemaah haji yang berkurban, jadi daging kurban dikirim ke luar daerah yang membutuhkan,” kata Hafidz.

**

Iduladha tidak hanya menjadi momentum pesta pembagian daging. Hari raya kurban juga menjadi momentum pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat. Penyediaan hewan kurban menjadi potensi usaha yang besar.

Dinas Peternakan (Disnak) Jawa Barat memperkirakan, pada Iduladha tahun ini, jumlah hewan kurban mencapai 25.000 sapi/kerbau dan sekitar 225.000 kambing/domba. Jumlah ini naik 15-20 persen dari sebelumnya. Namun, persentase pasokan hewan tidak berubah. Untuk kambing/domba, 30 persen di antaranya di datangkan dari luar Jawa Barat, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk ternak besar, bahkan separuh di antaranya harus didatangkan dari luar Jawa Barat.

Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing (HPDKI) Jawa Barat Yudi Guntara mengungkapkan, perayaan Iduladha memiliki potensi ekonomi bagi peternak lokal. Dengan stok ternak memadai, Jawa Barat dapat memenuhi sendiri kebutuhan hewan kurban. Bahkan, daerah sekitar seperti Jakarta sangat mungkin dapat dijadikan tujuan pasokan. “Peluang besar. Yang dibutuhkan, dorongan untuk mengembangkan agribisnis peternakan,” ujarnya.

Menurut Yudi, sistem agribisnis harus dikembangkan karena sampai hari ini masih mengandalkan pola ternak tani dalam skala kecil. Dari lima juta lebih domba/kambing, hampir semua berasal dari ternak tani. Padahal, pola tradisional sangat sulit dikembangkan karena pemilik ternak memiliki keterbatasan waktu pelihara, lahan, dan sumber daya manusia (SDM).

Dorongan mengembangkan agribisnis peternakan dianggap Yudi selaras dengan keinginan gubernur yang menginginkan Jawa Barat sebagai provinsi domba. Dibutuhkan peningkatan kualitas SDM, penguatan modal, dan pemberian bibit. “Tidak kalah penting insentif perizinan. Selama ini masih rumit,” katanya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Jawa Barat, Kuswara Suwarman, mengungkapkan hal senada. Iduladha dapat menjadi momentum kebangkitan peternak sapi dan kerbau. Pasalnya, dengan populasi ternak sekitar 240 ribu ekor, sulit mengharapkan Jawa Barat mampu memenuhi kebutuhan daging sendiri. “Yang mesti diperhatikan adalah pembibitan yang masih lemah,” ucapnya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnak Jabar Nana M. Abnan mengungkapkan, pihaknya yakin tahun ini stok hewan kurban lebih dari cukup. Perihal pemerataan distribusi juga tidak menemui masalah. “Sampai saat ini tidak ada keluhan dari daerah,” katanya. (Catur Ratna Wulandari/Ag. Tri Joko Her Riadi/”PR”)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: